Prof. Sumitro Djojohadikusumo

Prof. Sumitro Djojohadikusumo,

Pada ulang tahunnya ke-30, 1985, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) memberikan penghargaan Piagam Hatta kepada Widjojo Nitisastro dan Sumitro. Tokoh terakhir ini disebut ”Bapak Sarjana Ekonomi Indonesia”, yang, ”Sumbangannya terhadap perkembangan ilmu ekonomi yang berorientasi pada kebijaksanaan pembangunan, tidak diragukan lagi.”
Mengaku sebagai ”pengamat independen”, usai menerima penghargaan ia berpidato mengenai Tanggung Jawab Profesional Seorang Ekonom dari Masa ke Masa. Antara lain ia menjelaskan, ”Perlunya pengertian yang terinci tentang tinggal landas dalam Pelita VI. Agar tidak timbul berbagai penafsiran tanpa suatu tolok ukur.”
Inti tanggung jawab profesional ekonom, menurut Sumitro, adalah ikhtiarnya untuk ikut meletakkan dasar yang kuat, berdasarkan pertimbangan yang rasional. Pokok perhatian harus pada kehidupan manusianya. ”Salah satu jalur pendobrak kemiskinan ialah masalah kesempatan kerja,” tuturnya seperti waktu memberikan kuliah perdana di Universitas Terbuka, 1984.
Ia lantas memperkirakan, rasio beban ketergantungan sejumlah penduduk Indonesia saat ini 4:1. Artinya, 1 tenaga produktif memikul kebutuhan 4 jiwa, yang seharusnya cuma 2,5. Untuk menguranginya, perlu meningkatkan sektor industri, dan pengembangan wilayah. ”Ini menyangkut pola penggunaan dana, daya, dan efisiensi sistem perekonomian di Indonesia,” ujarnya.

Ketika memperingati 35 tahun Fakultas Ekonomi UI, 1985, pendiri dan dekan pertama fakultas ini membuka simposium Industrialisasi di Indonesia. Di antaranya ia menyebut tiga pemikiran mengenai industrialisasi. Yakni, yang memiliki keunggulan komparatif, memprioritaskan industri hulu masa depan, dan membangun dalam keterkaitan antara industri hulu dan hilir. ”Ketiga konsep ini bukan dogma,” ujarnya.

Pada usia 17 tahun, anak sulung dari lima bersaudara ini ingin belajar filsafat dan sastra Prancis. Tetapi, begitu lulus sarjana muda di Universitas de Sorbonne, Paris, 1938, perhatiannya beralih ke bidang ekonomi. ”Saya seniman yang kesasar,” selorohnya. Ayahnya, Almarhum Margono Djojohadikusumo, ketua DPA pertama dan pendiri BNI 1946.

Selama Perang Dunia II, Sumitro berada di Negeri Belanda, dan terlibat dalam gerakan anti-Nazi. Tetapi, ia masih sempat meraih gelar doktor ekonomi dari Economische Hogeschool, Rotterdam, 1942. Cum, demikian nama panggilannya, kemudian kembali ke Indonesia, dan mulai bekerja sebagai asisten Perdana Menteri Sutan Sjahrir.

Setahun kemudian, Sumitro membantu L.N. Palar di Dewan Keamanan PBB, lalu anggota delegasi RI ke KMB di Den Haag, Negeri Belanda, 1949. Setelah itu, ia menjadi Kuasa Usaha RI di Washington DC, dan ikut mempersiapkan pembukaan kedutaan RI di AS. Kemudian, tiga kali ia menjadi menteri, hingga 1956.

Berselisih dengan pemerintah RI saat itu, Sumitro bergabung dengan PRRI, 1957. Sepuluh tahun di pengasingan, ia menekuni bidang konsultan di Malaysia, Hong Kong, Muangthai, Swiss, dan Paris. Ketika Orde Baru lahir, ia kembali ke tanah air, dan sempat menjadi menteri, hingga 1978.

Dikenal sebagai pekerja keras, Sumitro mempunyai daya tahan yang besar. Dalam usia menjelang 69 tahun, ia bekerja dari siang sampai malam. Kini, ia memimpin Induk Koperasi Pegawai Negeri, dan aktif di PT Indoconsult dan PT Redecon. Sehari ia menghabiskan dua bungkus rokok putih, dan 20 cangkir kopi. Ia juga pecandu tenis. Menikah dengan Dora Sigar asal Sulawesi Utara, ia ayah empat anak dengan sejumlah cucu.

Pada 1983, Sumitro menjadi besan Presiden Soeharto. Anaknya yang ketiga, Prabowo Subianto, seorang perwira TNI-AD memperistrikan Siti Hediati Hariyadi, putri keempat dari enam anak Presiden Soeharto.

Nama :
SUMITRO DJOJOHADIKUSUMO

Lahir :
Gombong, Jawa Tengah, 29 Mei 1917

Agama :
Islam

Pendidikan :
– Universitas Sorbonne, Paris, Prancis (1938)
– Sekolah Tinggi Ekonomi Nederland, Rotterdam, Negeri Belanda (Sarjana, 1940
– Doktor, 1942)

Karir :
– Pembantu Staf Perdana Menteri RI (1946)
– Presiden Direktur Indonesian Banking Corporation (1947)
– Wakil Ketua Perutusan Indonesia pada Dewan Keamanan PBB (1948-1949)
– Anggota Delegasi RI pada Konperensi Meja Bundar, Den Haag (1949)
– Kuasa Usaha KBRI di Washington DC, AS (1950)
– Menteri Perdagangan dan Perindustrian (1950-1951)
– Guru Besar Universitas Indonesia (1951-sekarang)
– Menteri Keuangan (1952-1953 dan 1955-1956)
– Konsultan Ekonomi di Malaysia, Hong Kong, Muangthai, Prancis, Swiss (1958-1967)
– Menteri Perdagangan (1968-1973)
– Menteri Negara Riset (1973-1978)

Kegiatan Lain :
– Ketua Umum Induk Koperasi Pegawai Negeri
– Konsultan Ekonomi pada Indoconsult (1978-sekarang)
– Komisaris Utama PT Bank Perkembangan Asia (1986), .001 PT Redecon & LP3ES
– Ketua Dewan Penyantun Universitas Mertju Buana (1985- sekarang)

Karya :
– Antara lain: Soal Bank di Indonesia, 1946
– Keuangan Negara dan Pembangunan, 1954
– Ekonomi Pembangunan, 1955
– Kebijaksanaan di Bidang Ekonomi Perdagangan, 1972
– Indonesia dalam Perkembangan Dunia Kini dan Masa Datang, 1976
– Trilogi Pembangunan dan Ekonomi Pancasila, 1985
– Perdagangan dan Industri dalam Pembangunan, 1986

http://www.pdat.co.id/hg/apasiapa/html/S/ads%2C20030626-133%2CS.html

**Terima kasih untuk Pak Marsikin atas informasi tokoh ini

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: