Beranda > Pribadi > Bukan itu.

Bukan itu.

Lebaran. 2013. Suatu kesempatan yang tergapai ketika satu tahun berada di kota seberang yang penuh dengan eksotisme kehidupan manusia yang sangat berbeda dengan lingkungan sebelumnya, tentunya. Berbekal dengan sebuah usaha mendapatkan tiket murah, pulang pergi, saya pun datang pulang menuju ke peraduan ibu pertiwi versi mini, sebuah tempat di mana saya membesarkan diri dan dibesarkan dengan berbagai sentuhan asa yang berlimpah, sebuah kesederhanaan dan pendidikan mental yang justru kini saya rindukan.

Hampir setengah bulan lamanya, waktu dihabiskan di sini, mulai 5 hari sebelum lebaran hingga 10 hari setelah lebaran. Mungkin bukan waktu yang lama, tetapi bagi seorang pekerja yang kewajiban utamanya adalah masuk kantor jam setengah 8 pagi sampai jam 5 sore di kandang mainnya, setengah bulan adalah waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan keluarga, tetangga, kawan lama, dan kawan SMA tentunya.

Ternyata, seiring dengan berjalannya waktu, konsisi telah berubah mulai dari jalan, masjid, orang-orang, dan pekerjaan orang-orang. Ada yang bekerja di PT ini lah, PT itu lah, ada yang bawa mobil ini lah, motor ini lah, motor itu lah, bermacam-macam kondisi sosial. Maka demikianlah waktu, tak memberikan keterbatasan ruang untuk menghentikannya karena fitrah manusia adalah berfikir, mencari, dan melakukan yang terbaik untuk memperoleh apa yang diharapkan dengan cara-cara yang ia miliki, sesuai dengan hati nuraninya.

Maka berbahagialah ketika kita masih sadar akan indahnya iman, karena segala sesuatu akan indah jika kitaa hadapi dengan iman…. sebuah konsep sederhana tapi terkadang sulit untuk diwujudkan karena berbagai masalah nafsu, kondisi psikologis dan fisik. Iman itu akan mengantarkan kita dari hal yang ragu menjadi yakin atas petunjuk-Nya, meskipun orang awam melihat bahwa keduanya memiliki kondisi yang sama, tetapi sangatlah berbeda nilainya ketika hal itu dilakukan dengan keteguhan iman.

Kemudian, beberapa hari setelah lebaran, Kebiasaan yang kita lakukan adalah bepergian untuk tamasya bersama kawan/keluarga. Sebetulnya ini bukan sebuah budaya, tetapi hanya suatu kebiasaan. Sebuah tempat yang terkenal, tetapi saya belum pernah kesana. Berbeda dengan di Sulawesi, hampir semua tempat wisata telah diblusuki. Tempat itu adalah Baturraden. Butuh perjalanan 3 jam untuk menuju kesana karena keadaan jalanan lancar dengan cara berangkat setelah subuh. Meskipun belum pernah kesana, kami berempat berasumsi bahwa jalannya mudah dan tinggal mengikuti rambu jalan. kami pun berangkat pukul 06.30 WIB. Aku, adik, dan 2 kawannya ini, berangkat dengan bermodalkan sebuah harapan untuk dapat menikmati pemandian air panas pancuran pitu. Maka hal-hal yang lain menjadi tidak terasa penting.

Kami pun menempuh perjalanan mulai dari pangkalan menuju ke Gombong, lanjut ke Buntu, manjat gungung sampai di Purwokerto, lanjut ke TKP (Baturraden). Perjalanan berangkat yang dihimpiti dengan dinginnya udara pagi dan selimut kabut yang menelisik jalan-jalan besar, justru menambah asri suasana perjalanan dengan 2 sepeda motor yang masih sepi itu. Sungguh merupakan suatu keadaan jalan yang masih natural. Dengan berpedoman pada rambu jalan dan saling menunggu, kami akhirnya sampai di Buntu, kemudian lanjut ke Purwokerto… Di kota inilah kami harus bertanya pada orang entah siapa, seseorang yang sedang menyapu halaman di depan rumahnya, mengenai arah ke lokasi. Dengan sedikit petunjuk dan sarana GPS yang mana hanya dapat hidup selama beberapa jam karena keterbatasan baterai, kami pun melanjutkan perjalanan hingga ke lokasi.

Baturraden. Ini adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di tempat ini. Pagi itu. Sejuk. Nuansa pegunungan yang lengkap dengan berbagai pernak-pernik hiburan, membuat kami merasa ingin berlama-lama. Perbekalan apa adanya, kami santap di dekat sebuah tebing tembok atas yang menjaga sengkedan tanah terhadap penampungan air terjun kecil. Lalu lalang para pedagang dan para pencari kesempatan bersaing dan para pengambil risiko, tidak dapat kami hindarkan dari pemandangan yang indah dengan berkas cahaya surya yang menyingsing dari ufuk timur, melampaui sibak dedaunan di antara pepohonan. Perjalanan pun kami lanjutkan dengan menelusuri setiap apa yang sempat kita lihat menarik, hingga kami memutuskan untuk menempuh jalur yang cukup jauh di dalam lokasi itu, yaitu Pemandian Air Panas Pancuran Pitu.

Kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, sebuah jalanan yang tembus langsung dari objek wisata Baturraden. Mungkin kalau kami tidak jeli, kami tidak akan bisa mendapatkan jalur itu karena jalur itu berada di pojokan dengan petujuk arah seadanya, tanpa gerbang yang mewah. Dengan keberanian, kami berempat pun mencoba-coba, sempat kami berasumsi bahwa kami berada pda jalur yang salah, tapi kami tetap yakin dengan makin banyaknya orang sedusun berlalu lalang naik dan turun dengan suasana jalanan yang tidak tertata. Semapat kami melihat banyak sekali advertisement yang juga sama kami temukan di sepanjang perjalanan sebelumnya, “Rumah Makan Pring Sewu”. Entah kenapa kami tidak habis pikir, gencar sekali iklannya di sini, sampai ngalah-ngalahin caleg dan capres penunggu pohon.

Tidak tahu berapa jauh perjalanan, tapi kami teruskan hingga kami sempat beristirahat 2 kali. Pertama, kami tertarik beristirahat karena terdapat pemandangan yang cukup menarik, membuat kami berempat menyempatkan diri untuk mengambil gambar dengan alat yang seadanya dan sangat minim. Sekitar 15 menit, kami pun melanjutkan perjalanan di jalan setapak itu, hingga kami tidak sengaja ditawari jasa angkutan motor oleh seorang yang sepertinya telah beberapa tahun menguasai daerah ini dengan motor andalannya di pertigaan jalanan yang agak lebar, untuk mengantarkan kami ke Pancuran Pitu, tujuan akhir kami. Dengan berbekal keberanian (padahal karena terbatasnya bekal finansial), maka kami pun terus melanjutkan perjalanan dengan penuh keyakinan. Akhirnya kami pun sampai di gerbang loket pembayaran. Wah tidak disangka, kami kira ini bagian dari objek wisata sebelumnya sehingga tidak perlu membayar ulang, ternyata kenyataan berkata lain. Kami pun masuk karena sayang sudah sampai dengan penuh perjuangan hebat. Air bekal habis. Terlihat ibu-ibu penjual sajeng tidak terlalu laku dagangannya. Entah ini merupakan keuntungan bagi ibu-ibu penjual itu, atau bagi kami, kami kurang paham, tapi yang jelas kami mendapatkan sajeng itu sebanyak 1 botol akua penuh dengan harga yang lebih murah dari takaran seharusnya. Tidak papa lah, ibu untung, kami pun senang.

Tampak berjubelan banyak pengunjung telah memadati lokasi, banyak di antaranya menunjukkan kelihaiannya dalam memainkan papan kameranya (aipod atau apalah namanya, maaf saya hanya HP kamera seadanya), untuk mengabadikan gambar alay dia bersama rekan dan keluarganya. Banyak di antaranya yang hanya cuci muka, rendam kaki, dan gosok-gosok (habis itu keluar jin). Nah kalau yang ini adalah tempat pemandian gratis, lokasinya terbuka, tidak ada yang mandi. Ada tempat mandi yang diproyek dan berbayar, tempatnya agak tertutup, dan sebagian besar orang gosok-gosok badan di situ sampai capek. Kami pun memutuskan hanya bercuci muka dan gosok-gosok di pemandian gratis.

Lama kemudian. Perut pun terasa lapar, ternyata bukan hanya saya yang merasakan, tetapi teman-teman juga. Wah tepat sekali, karena di tepi jurang sebelah pojokan musola, ada ibu-ibu lagi (lain dari penjual sajeng), yang sepertinya telah berkuasa bertahun-tahun di tempat ini, sedang berderetan menjual aneka jajanan: tempe mendoan, bakwan, tahu berontak, pecel, ketupat. Kami pun mampir dengan candaan ke tempat itu, sempat kami bercanda kemudian ibu penjual juga menyahut candaan kami, suasana pun menjadi cair. Harapan kami ngaruh ke harga, tetapi tidak saudara-saudara. Sebagai orang yang biasanya parasit, sekali-kali saya membayari makanan buat teman-teman semua. Syukurlah, perut lumayan terganjal.

Kami pun lanjut turun ke arah barat, sebuah dataran yang memang hanya dialiri oleh air panas yang berasal ari pemandian gratis tadi. Tapi sepertinya ini air sisa-sisa aliran dari pemandian gratis dan pemandian proyekan. Tapi tidak apa-apa, kami pun mengambil gambar secara bergantian, mumpung pertama kalinya dan belum tentu akan datang kali lain. air nya pun masih hangat, dan batu pada yang dialiri air panas ini licin, harus hati-hati ketika berjalan karena dekat jurang. Sebelah bawah, terdapat air terjun. Airnya dingin, dan rupanya orang sekitar telah menerapkan ilmu fisika, mengenai energi. Mereka telah mengubah energi potensial dan kinetik dari air terjun menjadi energi listrik. Mesin generator bertutupkan plastik rapat disambungkan dengan baling-baling yang digerakkan oleh air ter terjun yang jatuh. Tidak terlalu besar deras airnya, karena tidak terlalu tinggi, tetapi cukup lah untuk supply listrik di daerah wisata Pancuran Pitu ini.

Penasaran, kami pun berputar jalur untuk melihat semua keindahan yang ada, biar gak rugi karena udah bayar. Jalurnya memutar. jadi turun ke air terjun tadi, ke kanan menuju air panas yang di bagian bawah, naik lagi ke pancuran Pitu. Terlihat sekali bahwa pemandian ini masih sangat natural, belum terlalu banyak modifikasi atau campur tangan pemerintah, ikut prihatin (padahal saya bagian dari pemerintah). Solat dzuhur, lalu pulang. Pulang pun kami menempuh jalur yang sama, jalan setapak yang agak jauh. Lelah tapi tidak terlalu terasa lelah.

Sore itu kami pulang dengan disambut hujan di pertengahan jalan pegunungan Purwokerto, tanpa kami persiapkan mantel yang mencukupi yang dapat membuat kami dapat makan bakmi nyemek lebih awal di Sumpiuh Buntu. Hujan dengan suasana agak gelap di seja hari, membuat suasana lengang, tapi kami tetap bersabar menunggu kondisi agar jalanan kondusif untuk pulang, karena jalanan licin dan menanjak/menurun, jika dipaksakan akan membuat kendaraan yang telah melebihi masa manfaatnya menurut Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan, telah habis, bahkan lebih. Kami pun pulang ketika hujan reda, dan berusaha mencari bakmi nyemek yang agak ramai, hingga kami sempat berpikir untuk mampir di warung makan fenomenal “Pring Sewu”, tapi setelah dilewati sampi habis, ternyata tidak ada yang ramai, dan akhirny akami melanjutkan sekuat tenaga, sampai ke sebuah rumah makan di perbatasan Banyumas-Kebumen, persis di depan jalan menuju Goa Jatijajar-Pantai Logending. Rumah Makan Ijo. Tidak terlalu berkesan, tapi ini kali pertama saya makan mewah dengan adik.

Akhirnya, saya dapat melakukan yang tadinya tidak pernah menjadi pernah, yang penting kita dapat mengambil senarai hikmah dan keteladanan dari setiap kebaikan yang kita lakukan, orang lain lakukan, dan fenomena sosial yang ada. Meskipun BUKAN ITU yang kita ingin lakukan, sesuatu yang terjadi tanpa rencana yang matang pun, dapat terjadi dan harus dijalani, sebuah hal kecil dan contoh kecil. Cerita ini.

(Sebuah coretan yang ragu untuk diterbitkan 1 tahun lalu).

Kategori:Pribadi
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: