Beranda > My Tax's Article > Good Bye The Word “Akhir Bulan Berikutnya”

Good Bye The Word “Akhir Bulan Berikutnya”


Faktur Pajak harus dibuat pada:

  • saat penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak;
  • saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi sebelum penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau sebelum penyerahan Jasa Kena Pajak;
  • saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan; atau
  • saat Pengusaha Kena Pajak rekanan menyampaikan tagihan kepada Bendahara Pemerintah sebagai Pemungut Pajak Pertambahan Nilai.

Faktur Pajak Gabungan harus dibuat paling lama pada akhir bulan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak.

Demikian bunyi pasal 2 dari peraturan dirjen pajak yang baru, yaitu PER-13/PJ/2010 tentang Bentuk, Ukuran, Prosedur Pemberitahuan dalam Rangka Pembuatan, Tata Cara Pengisian Keterangan, Tata Cara Pembetulan atau Penggantian, dan Tata Cara Pembatalan Faktur Pajak, sebagai petunjuk pelaksanaan yang telah mencabut petunjuk pelaksanaan sebelumnya, yaitu PER-159/PJ/2006.

Dari pasal itu telah jelas bahwa tidak adanya ketentuan batas waktu pembuatan faktur pajak sebagaimana diperumit dalam PER-159. Dalam ketentuan PER-159, atas penerahan BKP/JKP, faktur pajak harus dibuat pada saat pembayaran jika pembayaran dilakukan sebelum akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan. Pembuatan faktur pajak pada akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan dilakukan jika pembayaran dilakukan setelah melampaui akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan.

Ketentuan tersebut tidak ada lagi setelah berlakunya PER-13/PJ/2010 sejak tanggal 1 April 2010. Semuanya dibikin rata saja, bahwa faktur pajak dibuat pada saat penyerahan BKP/JKP. Dengan demikian tak dikenal lagi istilah “Akhir Bulan Berikutnya” yang selama ini masih tersimpan dengan baik pada pikiran saya karena dari tingkat 1 di kampus ini yang dipelajari adalah ketentuan PER-159/PJ/2006.

Demikian pula pada masalah Faktur Pajak Gabungan, sudah tak kenal lagi kata “Akhir Bulan Berikutnya” karena sekarang Faktur Pajak Gabungan harus dibuat paling lama pada akhir bulan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak. Ini adalah perubahan juga yang dilakukan terhadap pasal 2 atas PER-159 yang sebelumnya menyatakan bahwa ada dua kondisi pembuatan FP Gabungan:

Kondisi pertama, jika atas penerahannya dilakukan pembayaran sampai dengan akhir bulan penyerahan, maka FP Gabungan dibuat pada akhir bulan penyerahan.

Kondisi kedua, jika atas penerahannya dilakukan pembayaran setelah akhir bulan penyerahan, maka FP Gabungan dibuat pada akhir bulan berikutnya.

Konseptual

Kemungkinan maksud daripada pembuat peraturan ini dalam merumuskan batas waktu pembuatan berbagai faktur pajak bagi PKP yang bersangkutan adalah masalah sinkronisasi antara saat terutang PPN dengan Penerbitan Faktur Pajaknya. Mungkin dirasa tidak singkron jika terjadi perbedaan yang mencolok antara saat terutangnya PPN dengan saat pembuatan faktur pajaknya, misalnya berdasar ketentuan lama:

Saat terutang PPN = pada saat penyerahan BKP/JKP

Saat dibuatkan faktur pajak = “tergantung, apakah pembayaran telah dilakukan pada akhir bulan berikutnya?”

Dengan demikian faktur pajak dibuat hanya sekadar mencatat PPN atas pembayaran, bukan PPN atas penyerahan semata. Padahal, saya berpandangan bahwa tanda secara yuridis dari terutangnya PPN adalah dibuatkannya Faktur Pajak dan PPN terutang atas pennyerahan BKP/JKP. Masalah pembayaran, adalah hal yang lain.

Efeknya

Secara konsep mungkin dapat diterima, tetapi efeknya secara bisnis memberatkan bagi PKP yang melakukan penyerahan BKP/JKP (PKP Penjual), dan lebih memihak kepada PKP Pembeli. Apa artinya? Dengan adanya ketentuan seperti itu maka PKP Pembeli telah dapat mengkreditkan Pajak Masukannya pada masa pajak pada saat terjadi penyerahan BKP/JKP, meskipun ia baru memenuhi sebagian kecil kewajiban pembayaran kepada penjual. PKP Penjual pun menjadi tidak memiliki sesuatu yang dapat digunakan untuk memicu pembeli agar melunasi pembayarannya karena memang PPN sudah beres di depan pada saat penyerahan.

Lantas bagaimana jika PKP pembeli belum mau membayar PPN di depan pada saat penyerahan BKP/JKP? Maka PKP Penjual tetap memiliki kewajiban memungut PPN dan membuat faktur pajaknya sehingga kemungkinan besar PKP Penjual akan menalangi dulu PPN yang harus dibayarkan dari PKP Pembeli. Sudah jatuh tertimpa tangga. Begitulah nasib yang dapat menimpa PKP Penjual jika pembayaran melalui cicilan setelah berlakunya PER-13 ini.

Oleh karena itu, demi rasa keadilan bagi Wajib pajak, perlu ditinjau kembali masalah batas waktu pembuatan faktur pajak ini. Meskipun secara konseptual dapat diterima, tetapi kondisi bisnis susah atau tak dapat menerimanya. Semoga aturan yang baru dapat lebih dipertanggungjawabkan.

  1. 4 April 2010 pukul 1:48 am

    Silahkan kunjungi Blog kami http://www.harisistanto.wordpress.com, baca posting baru berjudul : “Pemompaan uji pada sumur bor di Maumere Kabupaten Sikka”, serta artikel lain yang bermanfaat, dan kalau berkenan tolong dikasi komentar. Terima kasih.

  2. kevin
    4 April 2010 pukul 2:49 am

    Anda cerdas

  3. 6 April 2010 pukul 12:27 pm

    Thx put.. Hehe…
    Btw rss feed yg oke buat updatean peraturan pajak terbaru apa y?

  4. 8 April 2010 pukul 5:41 am
  5. 26 April 2010 pukul 2:17 am

    mantab ih, semua postingannya tentang pajak.. salut..

  6. 27 April 2010 pukul 6:42 am

    dinoyudha :

    mantab ih, semua postingannya tentang pajak.. salut..

    maklumlah mas dino, lagi abis lomba blog nih,…. hehehe

  7. Orang sini
    16 Mei 2010 pukul 4:15 pm

    put, lo lg ngapain …?

  8. qodri
    17 Mei 2010 pukul 9:13 pm

    put..kok nos banget sih…

    salah…kata pak untung ini adalah sebuah kemunduran peraturan…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: