Beranda > STAN > Emang BLM Perlu?

Emang BLM Perlu?

Puput Waryanto*

Dalam dinamisasi kehidupan kampus STAN di mana kebanyakan mahasiswa memiliki konsep diri yang negatif berupa apatis, nampaknya sistem pengawasan perlu dipertanyakan lagi efektifitasnya, karena bagi pihak-pihak yang diawasi, sistem pengawasan yang dilakukan oleh satu-satunya unit pengawasan sekaligus organisasi kemahasiswaan yang mempunyai kedudukan paling tinggi di kampus STAN, malah justru bagi sebagian dari mereka dirasa mempersulit keadaan. Konsep diri (Ucok Sarimah, STAN) merupakan cara pandang seseorang yang merupakan pusat dari kesadaran dan tingkah laku kita yang melibatkan perasaan, nilai-nilai yang kita anut, dan keyakinan-keyakinan kita.

Dengan berbekal konsep diri inilah kebanyakan mahasiswa berpandangan bahwa bekerjanya eksekutif biarlah berjalan sebagaimana mestinya seperti air mengalir dan segala pengawasan dilakukan sendiri oleh administrasi eksekutif itu sendiri dengan alasan mendataris seluruh mahasiswa sudah berada pada Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa yang dipilih secara langsung melalui Panitia Pemilihan Raya (Pemira). Perasaan, keyakinan, dan nilai masyarakat kemahasiswaan yang mengarah pada ketidakpercayaan, ketidaketisan, dan ketidaksopanan akan timbul jika Badan Legislatif Mahasiswa bekerja mengawasi segala bentuk aktivitas dan program eksekutif (KM STAN), nampaknya sudah mulai ada sejak awal terbentuknya badan yang banyak mendapat protes atas tindakannya yang dianggap sewenang-wenang ini.

Yakinkanlah bahwa dalam suatu lingkungan kepemimpinan dipastikan terdapat sedikit atau banyak penyelewengan baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Dalam kondisi yang normal, seseorang akan selalu melakukan tindakan yang terbaik untuk setiap pihak yang dipengaruhi oleh akibat dari tindakan itu sendiri. Akan tetapi dalam kondisi di mana seorang pimpinan harus mengambil suatu keputusan, ia akan memahami tindakan yang harus ia lakukan tanpa mendasarkan pada pedoman kaidah yang ada. Pada satu sisi dia harus cepat dan bijaksana, dan pada sisi lain adanya aturan. Di sinilah peran sistem pengawasan yang independen seperti halnya yang dilakukan oleh Badan Legislatif Mahasiswa STAN dalam menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban semua Keluarga Mahasiswa STAN (KM STAN) dalam menjalankan segala aturan yang terkait dengan mereka.

KM STAN adalah seluruh organisasi kemahasiswaan yang terdaftar di kampus STAN, tidak termasuk Organda. BEM  memiliki wewenang untuk mengatur kegiatan semua KM STAN di kampus. Kewenangan itu tentu harus memiliki batasan agar tak menyimpang dari kebijakan yang seharusnya, karena ketika fungsi itu menyimpang, maka dinamisasi kehidupan kampus bisa jadi berubah dan menjadi bergerak di alur yang tidak semestinya. Dan apa yang dimaksud dengan kata “tidak semestinya” itu? Maksudnya adalah tanpa ketentuan kebijakan yang jelas bisa saja satu organisasi berjalan jauh menyimpang dari organisasi lain, bahkan mengganggu dan saling menjatuhkan antar organisasi, dan pertentangan – pertentangan itu tentu akan mengganggu jalannya dinamisasi kampus itu sendiri, dari kegiatan yang tersendat – sendat juga banyaknya aktvitas yang tidak terorganisir yang pada akhirnya akan merugikan seluruh warga kampus.

Akan tetapi dengan persyaratan yang jelas, dan ketentuan – ketentuan yang dibuat oleh legislatif itu akan dapat meminimalisir terjadinya penyimpangan dalam perjalanan organissasi itu. Lalu bagaimana yang dimaksud dengan Peran legislatif? Peran hal ini adalah membuat kebijakan umum yang mengarahkan semua kegiatan di kampus seperti yang telah dijelaskan diatas. (Tri Aryani)

Meskipun peran BLM bukan satu-satunya aktor yang berpengaruh besar dalam dinamisasi kampus, bahkan bisa dibilang bahwa mereka bekerja secara underground. Itu karena BLM dalam bekerjanya lebih berurusan lebih dengan lembaga tunggi lainnya dan dalam tingkat penentu kebijakan. Tidak seperti halnya BEM sebagai Badan Eksekutif Mahasiswa yang bertindak sebagai eksekutor. Tetapi perannya dalam dinamisasi kampus tidak bisa dibilang kecil. Karena melalui BLM-lah semua blue print kegiatan-kegiatan kampus ini disahkan. Dan pengawasannya dijalankan agar benar-benar manfaatnya terasa oleh anggota KM STAN. Dan lewat BLM-lah segala peraturan-peraturan yang menunjang dinamisasi kampis dirancang dan disahkan.(Imam)

Relevansi BLM dengan Tugas

Rupanya dalam sebuah pengawasan yang baik, fungsi membuat aturan tidak tergabung dengan fungsi pengawasan karena bisa dianggap sebagai ketidakindependenan. Untuk itu, kedua fungsi tersebut dirasa tidak relevan jika dijalankan semua oleh Badan Legislatif Mahasiswa. Akan tetapi, hal ini tidak menjadi masalah demi  kepentingan efisiensi organisasi agar tidak terlalu banyak organisasi, lagipula kita dapat membagi kepanitiaan dalam BLM itu sendiri di mana di antaranya terdapat Panitia Legislasi dan Panitia Pengawas. Panitia Legislasi bertugas membuat aturan, sedangkan Panitia Pengawas bertugas mengawasi, serta masih ada bentuk Panitia lainnya.

Peran BLM yang sedemikian besarnya tentu dibutuhkan anggota BLM yang memiliki komitmen dan dukungan yang penuh dari spesialisasinya masing-masing karena sejatinya anggota BLM itu adalah penyambung aspirasi dan mulut dari mahasiswa, khususnya untuk spesialisasi, dan lebih khusus lagi untuk kelasnya serta kelompok kepentingannya. Seperti halnya dalam sebuah pemerintahan sebuah negara, DPR/MPR merupakan penjelmaan dari seluruh rakyat sebuah negara. Untuk itu, segala sesuatu yang anggota sampaikan ke forum, mewakili dari seluruh orang yang memberikan suara padanya. Amanah ini harus diaga dengan sebaik-baiknya oleh anggota yang kompeten dan berkomitmen untuk menjadi seorang Pemimpin yang professional, menguasai secara formil dan material! Ya, tidak salah lagi. PEMIMPIN yang benar, amanah, menjadi teladan bagi semua.

Bagi mahasiswa baru yang berminat untuk menjadi anggota BLM, dapat mempersiapkannya. Sekadar informasi, bahwa anggota BLM juga dipilih secara langsung melalui Pemira (Panitia Pemilihan Raya) yang diselenggarakan bersamaan dengan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa. Lebih lanjut dapat mennghubungi Wakil Ketua BLM, Qadri Fidienil Haq (021-98858727)

Organisasi formil

Tidak dpat dipungkiri lagi bahwa BLM STAN adalah sebuah organisasi kemahasiswaan ayng formil karena sudah menjadi tugasnya untuk menyusun ketetapan dan keputusan yang isinya mengenai prosedur formil. Akan tetapi, kita tidak boleh terjebak oleh sekadar memenuhi keformilan itu. Sealin memenuhi prosedur formil, kita harus bertindak secara material/ substansial agar tidak menjadi orang Sophies yang pandai pemikirannya dan bijaksana, tetapi tidak pernah menyelesaikan permasalahan. Berkatalah dengan hati, dan pergunaknlah pikiran sebagai sarana menemukan suara hati atau suara Ilahi itu. Akan tetapi kita perlu melihat bahwa tanpa prosedur formil tidak dapat berjalan sehingga kita harus selaras, serasi, dan seimbang dalam menjalankan tugas.

*Pj. Media Sekjen BLM

Mahasiswa STAN, D III Administrasi Perpajakan Kelas 3E, 2010

Ditulis setelah berdiskusi dengan diri saya sendiri dengan mengambil beberapa literatur dan pendapat narasumber.

Kategori:STAN Tag:,
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: