Beranda > Cinta > Subuh Masih Gelap

Subuh Masih Gelap

Sepi memeluk tapak kekarnya. Tiada bulan bersinar. Tiada bintang terang. Langit hitam. Amis comberan meruap. Petakan kayu tua tanpa cat tegak di kanan-kiri. Kunang-kunang 5 watt mengambang, beterbangan.

Bayangan wajah terpantul di genangan air. Serupa kaktus tak di gurun.Sejak dulu ia malas bermanis-manis. Orang masih saja memandang sebelah mata, menganggap selalu salah, betapapun santun berperilaku. Setiap muncul kericuhan, ia dilirik duluan. Sekalian saja jadi tikus di kampung sendiri.

Gambaran masa lalu menyeruak. Meja kayu, rokok, botol bau alkohol, perempuan bergincu. Jaman putih abu-abu: dari  rumah berseragam, tapi jarang bertemu Ibu-bapak guru. Perutya mual makan teori dan hitungan matematis. Ia pembelajar fisik, belajar dari alam. Ia memindahkan sekolah ke jalanan, ke warung remang-remang, ke persimpangan jalan. Di sana ia belajar menikmati hidup. Surga dunia.

“Kau mau jadi apa, Jang? Emak susah cari biaya sekolah, kau malah minggat. Kapan kau bikin Mak bangga?” air mata mengalir. Mengiringi langkahnya keluar dari terali besi.

“Tak ada lagi yang bisa Mak banggakan selain kau. Buatlah Bapakmu tenang di atas sana” Sungai tersipta di pipi berkerut nestapa.

Ia mengenang emak. Betapa kasihnya adalah matahari. Selalu ada maaf atas segala salah. Ia kerap melihat Emak menadahkan tangan di gelap malam. Tapi kala itu hatinya masih mati suri.

Lulus SMA ia makin liar, bergabung dengan gerombolan tikus kota. Menjarah. Bahkan ia rela menjual keperkasaan untuk segepok rupiah, demi kuda besi dan gengsi. Luntur sudah ajaran agama dari Bunda.

Sebulan terakhir ia mulai mengenal kartu dam uang. Ia gadaikan apapun supaya memang taruhan: motor, jam tangan, harga diri, apapun! Sayangnya keberuntungan tak pernah berpihak. Satu-satunya harta tinggal gadis yang mencoba untuk setia, tergila-gila padanya. Tak ada akad mengikat, tapi hubungan sangat dekat; suami-istri.

Sayangnya ia tak tahu, gadis adalah saudara muda sang bandar.

“Belaian adikku tidak gratis, heh…” ujar lelaki berjambang lebat.

Ia sudah bangkrut. Tak dapat memberi apapun. Ia tetap nekat mengisap madu, hingga akhirnya perih dan luka menjalar di tubuh.

“Menyingkirlah dari sini! Aku tak butuh ipar sepertimu. Pergi! Jangan pernah datang lagi bila masih ingin melihat matahari!”

Tendangan melayang. Tinju di perut, dada dan wajah membiru. Salam perpisahan yang berkesan. Tubuhnya senilai daging busuk, terkapar di jalan. Tak ada satu orangpun berhasrat menjamah. Takut sial menular, menyengsarakan badan.

Tertatih-tatih ia merangkak. Seperti anjing korban tabrak lari. Ia ingin kembali ke sarang. Dan sarangnya adalah sebuah petak mungil dengan warung kecil di pinggir kali.

Tiba-tiba ia sangat merindukan perempuan berwajah rembulan itu. Masih sudikah ia menerimaku?

Ia memutuskan pulang. Kenangan masa lalu ingin diulang. Emak pasti menerima. Memeluknya dulu

Air mata merayap di pipi penuh minyak dan debu. Ia meringis. Bukan karena lebam di wajah atau memar di dada. Tapi  lebih karena segumpal sesal, kenapa baru sekarang ingat perempuan matahari itu.

Angin berhembus mengajaknya berlari. Kuatkan kaki, cepat berjalan. Dalam khayalnya; sesosok tubuh merengkuh. Hilangkan gundah. Sejukkan jiwa. Menetes lagi air mata, sebab hanya angin dan dingin yang memeluk badan ringkihnya.

“Sudahlah, jangan bersedih lagi!” satu suara menghampirinya. Ia  tak sadar.

“Lebih baik kau ikut aku.” Tahu-tahu ia didorong maju. Dia terkejut. Sadar. Sesuatu menggerak badan.

“Hei ada apa ini?” Heran. Kaki bergerak tanpa perintah. Ia berusaha menahan langkah,  tak bisa. Kakinya terus berjalan ke sebelah kanan.

“Sudahlah ikut saja!”

Dia bingung. Kekuatan apa ini? Mengapa kaki bergerak sendiri? Ia menoleh ke belakang, kanan dan kiri, sepi. Tak ada siapa-siapa, kecuali lorong sempit diapit rumah-rumah kayu kusam dan dinding setinggi tiga meter.

“Siapa kau?” teriaknya berusaha lantang. Sayang, tak ada suara berkumandang. Ia berkata tanpa suara.

“Tak usah diperdebatkan. Aku akan mengajakmu ke tempat sejuk. Sebelum bertemu ibumu kau harus suci dulu. Melangkahlah terus ke timur. Tapak kakimu akan diganjar dengan satu penghapusan dosa dan satu bingkisan pahala “ kata suara itu.

“Siapa kau? Manusia atau apa?” Ia seolah bertelepati. Sihir kiriman si bandarkah. Atau jangan-jangan…setan?

“Aku bukan setan! Buang prasangka burukmu itu.”

Akhirnya menurut saja. Terseret, berjalan terus ke depan. Keluar dari lorong sempit ke jalan utama.

Jalan sepi. Palang besi menghalangi. Pintu masuk perumahan. Ia menyebrangi jalan, mendekati batangan besi yang melintang. Berlipat-lipat kebingungannya. Untuk apa si suara mengajaknya kemari? Ingin mencuri seperti dulu lagi?

“Tenang aku tak akan mengajakmu berkubang di lumpur dosa lagi. Aku hanya ingin mengajakmu menghadapNya. Kau ingin tobat, kan ?” Kita akan shalat ”

Shalat?!! Dia ragu. Apakah masih ingat gerakan yang pernah diajarkan bapak dulu. Dosaku bertumpuk-tumpuk, dapat terhapuskah?

“Hei… jangan pesimis. Tuhanmu Maha Pengasih. Ampunannya lebih luas dari langit dan bumi.“ Suara itu mengingatkan.

“Kejahatan adalah noda di pakaianku. Biar kucuci tak kunjung bersih.”

“Bukankah itu lebih baik. Kau bisa tenang dalam tobatmu. Beribadah khusu hanya ingin ridhoNya. Bukan karena sanjungan atau pujian orang.”

Dia tercenung memikirkan kalimat suara misterius itu. Tapi ia masih ragu, sangat ragu. Apalagi pintu masuk menuju komplek itu dijaga laki-laki berseragam. Penjaga keamanan itu pasti curiga melihat kedatangannya. Mereka tak akan percaya jika ia mengatakan ingin ke masjid.

“Jangan ragu. Langkahmu akan mudah jika kau bersungguh-sungguh.”

Benar saja. Saat melewati pos keamanan, lelaki beseragam itu tengah terlelap. Lelah menjerat kesadarannya. Santai ia berjalan. Melewati rumah-rumah besar, halaman tanpa pagar, kendaraan roda empat.

Setelah berjalan beberapa puluh meter, ia menemukan bangunan berkubah itu. Pohon beringin mengawal di sekelilingnya. Dua pilar utama di muka bagai melambai, menyambut kedatangannya. Lebih dari dua ratus orang cukup bernaung di sana. Ia berjalan mendekati pintu. Termangu.

Azan berkumandang. Sunyi pecah seketika. Alunan suara muadzin tak kalah dengan simponi orkestra di telinganya. Meskipun sudah ribuan kali mendengar bait-bait itu, baru sekarang ia merasakan indahnya.

Saat hening berkuasa lagi, ia tersadar. Melihat diri kotor, bau, penuh najis. Tak pantas menghadapNya. .

“Assalamualikum… “ satu suara menyentaknya.

Ia gagap menjawab.

Lengan keriput terulur, “anak mau shalat?”

“Ya… tapi badan saya kotor. Pakaian saya ….”

“Anak bisa memakai pakaian saya. Mari!” ajaknya.

Laki-laki tua itu mendorong bahunya, mengajaknya ke kamar di samping masjid.

“Anak bisa pakai ini,“ laki-laki tua menyodorkan kemeja lengan panjang dan sarung yang telah memudar warnanya.

“Anak boleh mandi dulu. Saya tunggu untuk shalat berjamaah di dalam. “

Ia menatap lekat pakaian di hadapannya. Ada haru menyeruak. Segera ia melaksanakan perintah laki-laki tua ini. Ada damai menyapa.

Tak lama kemudian, ia telah berdiri, mengarungi alam penghambaan. Si laki-laki tua jadi imam, beberapa orang bergabung. Ia berusaha mengikuti lafal Al-fatihah, antara ingat dan lupa. Terbata-bata.

Selesai menyembahNya, ia duduk berhadap-hadapan dengan laki-laki tua itu, menceritakan segala riak hatinya. Lelaki tua menyimak.

“Allah punya banyak cara membimbing hambaNya. Mungkin suara-suara itu adalah sisi baik anak. Sifat jahat mengurungnya, mengendalikan perilaku anak. Sekarang, sifat baik menang, bangun dari tidur panjangnya.. Anak sendirilah yang membangkitkannya. Sesungguhnya dalam hati manusia yang paling jahat, ada setitik sifat baik. Begitupun orang baik, masih ada sifat jahat  bertengger di hatinya. Semuanya tergantung bagaimana kita mengelola hati, berpegang pada petunjuk Allah dan Rasulullah.” Pak tua menjelaskan.

Ia puas. Berpamitan Mengucap banyak terima kasih.

Gelap memudar. Bayangan Emak menari di benaknya. Aku harus pulang!

Berbekal ketenangan, ia kembali menuju pintu masuk. Satpam masih terlelap. Namun ketika meloncati portal ia mendengar suara berdehem. Takut-takut, ia menoleh Kumis laki-laki berseragam itu bergerak, sedang matanya tetap terpenjam.

Ia berjalan terus depan, kembali menapaki lorong dengan hati biru.

Damai pagi begitu nyaman. Oksigen belum bersenyawa penuh dengan polutan. Kokok dari kandang-kandang kecil di sepanjang lorong bersahutan. Cahaya lampu  rumah-rumah petakan, akan segera bertekuk lutut pada sinar raja terang.

Tiba-tiba, kegaduhan membahana.

“Maling!”

“Tangkap!”

“Hajar!”

Ia memincingkan mata. Beberapa meter di depannya, seseorang berlari kencang, menuju arahnya. Sesuatu terbungkus kain berada dalam dekapan, Si pelari berkedok rajutan wol hitam. Beberapa orang mengejar di belakang. Otaknya menyimpulkan:  pencurian!

Ia memasang kuda-kuda. Siap melayangkan pukulan, menghadang. Tinju baru akan melayang ketika si kedok hitam melempar barang bawaan ke arahnya. Ia refleks menangkap. Si kedok hitam berlari meninggalkan. Ia kaget, bingung. Orang-orang datang. Tanpa banyak bicara mereka menyerang. Pukulan tinju, tendangan, gebukan kayu menghantam. Ia tak bisa melawan.

“Habisi sajaSubuh Masih Gelap…!”

“Hajar terus, biar kapok!”

“Jangan kasih ampun.”

“Tunggu. Saya…”  Tak berdaya.  Sakit menjamur di sekujur tubuh. Ia merasakan kesejukan. Sejuk darah merah. Subuh masih gelap.

Kategori:Cinta
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: