Arsip

Archive for the ‘Knowledge’ Category

Daftar BUMN Republik Indonesia

Jasa Keuangan, Jasa Konstruksi, dan Jasa Lainnya
Categories: Knowledge Tag:

Trik Jantung

Ingin terhindar dari penyakit jantung? Cobalah mengonsumsi segelas jus jeruk setiap hari. Orange juice atau jus jeruk diketahui mengandung hesperidin, senyawa flavonoid, yang bisa memperbaiki fungsi pembuluh darah dan menurunkan risiko penyakit jantung.

Penelitian menunjukkan, flavonoid menyehatkan sel-sel pembuluh darah sehingga fungsi endothial bekerja dengan baik. Gangguan pada sel-sel ini akan menyebabkan sumbatan pembuluh darah, penyebab utama serangan jantung dan stroke. Selain pada jus jeruk, flavonoid juga banyak terdapat pada buah anggur, anggur merah, teh hijau, dan cokelat.

Dalam studi mengenai jus jeruk, para peneliti melibatkan 24 orang sehat yang beresiko terkena penyakit pembuluh darah. Mereka diminta minum 500 mililiter jus jeruk setiap hari atau minuman yang diperkaya dengan 292 miligram hesperidin. Segelas jus jeruk seukuran 500 milimeter setara dengan 292 miligram hesperidin. Selama penelitian para responden mengonsumsi minuman tersebut selama sebulan penuh.

Hasilnya, mereka yang mengonsumsi jus jeruk atau minuman yang diperkaya hesperidin, memiliki fungsi endhotial yang lebih baik dan tekanan darah lebih stabil. Hasil studi ini akan dipresentasikan dalam pertemuan tahunanAmerican Heart Associations Basic Cardiovascular Science.

Categories: Knowledge

Diproteksi: Makna Lagu Gaudeamus Igitur

27 Juli 2009 Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar.

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:

Categories: Knowledge Tag:

EQ apakah lebih penting?

Definisi emosi :
Luapan perasaan yang intensitasnya lebih tinggi dan ditandai dengan adanya perubahan fisiologis, bersifat sementara, tidak terduga, dan mudah hilang.
Definisi kecerdasan emosional (EQ) :
Kemampuan untuk mengatur, mengendalikan, mengontrol luapan perasaan yang berlebih yang mempengaruhi pikiran, tingkah laku, dan psikis seorang individu.

Golongan-golongan emosi :
amarah, kesedihan, takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel (jijik), dan malu.

Perbedaan IQ dan EQ :

IQ bukanlah ntuk menjelaskan sesorang tetapi untuk menggambarkan potensi seseorang untuk belajar namun IQ merupakan hasil pengukuran kemampuan berfikir secara abstrak seorang individu (skor). seseorang yang mencapai perkembangan inteligensi yang optimal dapat mempergunakan totalitas kemampuannya secara efektif dan efisien dalam menghadapi persoalan-persoalan. keragaman intelligensi individu sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor keturunan, lingkungan, usia, dan jenis kelamin.

sedangkan EQ merupakan suatu kesanggupan untuk mengendalikan dorongan emosi, membaca perasaan terdalam orang lain dan memelihara hubungan dengan sebaik-baiknya. kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk membedakan dan menanggapi susana hati, tempramen, motivasi, dan hasrat diri serta orang lain.

EQ terdiri dari :

1. kemampuan untuk mengenal emosi diri sendiri
2. kemampuan untuk mengelola dan mengekspresikan emosi diri dengan tepat
3. kemampuan untuk memotivasi diri sendiri
4. kemampuan untuk mengenal orang lain
5. kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lian

Mengapa EQ lebih penting daripada IQ??

Studi kasus : seseorang yang jelas-jelas cerdas dapat melakukan sesutau yang sedemikian bodoh dan tidak rasional.

Jawabannya,
Kecerdasan akademis sedikit saja berkaitan dengan kehidupan emosional. yang paling cerdas diantara kita dapat terperosok dalam nafsu takterkendali dan impuls meledak-ledak ; orang dengan IQ tinggi dapat menjadi pilot yang tak cakap dalam kehidupan pribadi mereka.

Ada banyak perkecualian terhadap pemikiran yang menyatakan bahwa IQ meramalkan kesuksesan. padahal setinggi-tingginya IQ menyumbang hanya 20% bagi faktor-faktor yang menentukan sukses dalam hidup, maka yang 80% diisi oleh kekuatan-kekuatan yang lain.

Pada ciri-ciri lain kecerdasan emosional, kemampuan seperti memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati, dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati, dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, serta berempati dan berdoa.

Jadi, pada dasarnya peranan EQ sangat berpengaruh pada seseorang untuk menentukan sikap dan tindakan berpengaruh pada seseorang untuk menentukan sikap dan tindakan yang akan dilakukan. walaupun seseorang memiliki IQ yang bagus tetapi jika tidak didukung oleh EQ maka dia akan tetap tidak dapat mengontrol pribadinya.

Mengutip kata DANIEL GOLEMAN :
“orang yang punya IQ tetapi tidak didukung oleh EQ yang baik sama saja dengan, orang pintar yang bodoh. “

Beberapa tahun terakhir ini semakin gencar pemahaman betapa pentingnya unsur kecerdasan emosional (EQ) yang melekat pada aspek kepemimpinan seseorang. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa kemampuan manajer dalam memahami dan mengelola emosinya dan juga emosi orang lain merupakan kunci kerberhasilan kinerja bisnisnya. Daniel Goleman  telah menulis dan menerbitkan buku berjudul Emotional Intelligence(1995) dalam Stuart Crainer dan Des Dearlove (Handbook of Management, 2001). Dia menyimpulkan bahwa kompetensi insani seseorang seperti kesadaran diri, kedisiplinan diri, ketekunan yang terus menerus, dan empati mempunyai pengaruh lebih besar ketimbang kecerdasan intelektual (IQ) terhadap kinerja bisnisnya.

Goleman sebagai seorang psikolog mengadop pendapat Peter Salovey, seorang psikolog dari Universitas Yale, tentang arti kecerdasan emosional. Menurut Salovey, kecerdasan emosional dapat diamati dari lima perspektif yakni, pemahaman emosi diri, pengelolaan emosi, pemotivasian diri, pengenalan diri, dan membangun hubungan. Dalam bukunya yang lain berjudulWorking With Emotional Intelligence,(1998), Goleman kembali menegaskan bahwa kompetensi pekerjaan yang didasarkan pada kecerdasan emosional memainkan peranan yang lebih besar ketimbang kecerdasan intelektual atau ketrampilan teknis.

Pertanyaan yang muncul dari pendapat itu adalah apakah hal demikian berlaku untuk semua posisi pekerjaan seseorang. Hemat saya tidak demikian. Untuk para operator, ketrampilan teknis atau kecerdasan intelektual merupakan unsur kunci keberhasilan-prestasinya. Pada posisi seperti itu ketrampilan teknis harus lebih besar ketimbang kemampuan manajerialnya. Bisa dibayangkan seorang karyawan teknis produksi kalau kurang mengetahui unsur teknis dan semata-mata mengandalkan pada kecerdasan manajerial yang lebih besar  maka kinerjanya bukan membaik tetapi malah menurun. Namun bukan berarti kecerdasan emosi seperti motivasi dan menajemen diri tidak diperlukan.   Memang  seseorang akan lebih mampu lagi meningkatkan kinerjanya apabila memiliki dua jenis kecerdasan sekaligus. Istilahnya kedua dimensi kecerdasan itu bekerja bersama secara sinergis. Hal ini lebih nyata pada kemampuan seorang pimpinan.Dengan kecerdasan intelektual tertentu plus kecerdasan emosional yang lebih besar ketimbang orang lain maka kinerjanya akan lebih tinggi.

Dilihat dari posisinya, semakin senior posisi seorang pimpinan semakin membutuhkan kecerdasan emosionalnya. Hal ini wajar karena salah satu tugas penting seorang pimpinan adalah dalam mengkoordinasi orang dalam mencapai visi dan tujuan bisnis tertentu. Hal ini juga dibedakan berdasarkan gaya kepemimpinannya. Sebagaimana diketahui ada beragam gaya kepemimpinan seperti yang bersifat paksaan (coercive) pada seseorang atau kelompok orang dalam setiap permintaan untuk segera dipenuhi; gaya otoritatif yang memobilisasi orang untuk mencapai visi organisasi; gaya afiliatif yang menciptakan suasana kerjasama harmonis; gaya demokratis yang membangun konsensus dengan cara partisipasi anggota-anggotanya; gaya perintis yang suka pada keunggulan dan bertindak cepat; dan gaya seorang guru yang mengembangkan kapabilitas orang. Semuanya berhubungan dengan orang.

Setiap pemimpin harus mampu menerapkan gaya kepemimpinannya sesuai dengan situasi. Misalnya ketika memimpin karyawan yang masih baru, seorang pemimpin sebaiknya menerapkan kepemimpinan yang berorientasi tugas dan intensitas pemantauan produksi tinggi (jumlah, mutu, tingkat kerusakan). Jadi disini dibutuhkan kecerdasan intelektual atau teknis yang lebih besar. Sementara ketika menghadapi karyawan yang semakin senior maka gaya kepemimpinannya berorientasi pada memelihara otonomi, motivasi dan hubungan sosial. Dan disini dibutuhkan kecerdasan emosional yang lebih besar.

Jadi bisa disimpulkan bahwa menganalisis hubungan keberhasilan seseorang dengan bentuk kecerdasannya harus dilihat secara proporsional. Dalam prakteknya perlu diposisikan dua kecerdasan itu dalam konteks dengan output (kinerja) dan posisi pekerjaan secara seimbang. Kecerdasan intelektual dapat dipandang sebagai syarat keutamaan. Tetapi syarat itu masih kurang dan harus ditambah dengan syarat kecukupan yakni kecerdasan emosional. Dan kecerdasan emosional seseorang itu sendiri cenderung berhubungan positif dengan faktor usianya. Semakin tua usia seseorang sampai batas tertentu semakin tinggi kecerdasan emosionalnya. Semakin besar syarat kecukupan seseorang semakin besar kemampuan untuk meningkatkan kinerjanya; pada tingkat kecerdasan intelektual dan posisi tertentu.

Menangkal Penyakit dengan Pola Makan Sehat

Banyak penyakit dapat dicegah dengan gaya hidup dan pola makan yang sehat. Di antaranya adalah kanker, yang juga salah satu penyebab utama kematian di banyak negara, termasuk di Indonesia. Ada banyak hal yang diduga menjadi pemicu munculnya kanker di dalam tubuh, dan salah satu di antaranya adalah pola makan yang tidak baik. Kendati tidak semua kanker berkaitan dengan pola makan, namun pola makan yang sehat sudah jelas akan menurunkan risiko terjadinya kanker. Di samping itu, pola makan sehat juga terbukti bermanfaat mencegah terjadinya penyakit jantung koroner, diabetes melitus, hipertensi, dan kerusakan ginjal.

Berikut ini beberapa tips pola makan yang sehat yang dapat digunakan :

  1. Perbanyak konsumsi bahan makanan dari tumbuhan

    Bahan makanan dari tumbuhan merupakan bahan makanan utama untuk pencegahan kanker. Hal ini karena sayur dan buah merupakan sumber utama phytochemicals, yaitu zat alamiah yang berfungsi melindungi tubuh dari pembentukan tumor. Dengan mengkonsumsi 2 ? 4 porsi buah-buahan dan 3 ? 5 porsi sayur-sayuran, diperkirakan akan menurunkan risiko kanker sebesar 20 %.

  2. Perbanyak jumlah serat dalam makanan sehari-hari

    Mengkonsumsi karbohidrat kompleks dan makanan berserat sebagai pengganti karbohidrat sederhana (seperti tepung atau gula), merupakan pilihan yang tepat untuk mencegah obesitas dan kanker. Serat yang terkandung dalam sayur dan buah, tidaklah terdapat pada daging, susu, keju maupun minyak. Sedangkan proses pemutihan tepung terigu justru akan menghilangkan kandungan serat gandum.

    Serat bermanfaat memperlambat waktu pencernaan makanan sehingga rasa kenyang terasa lebih lama dan tubuh dapat menyerap zat gizi dari makanan dengan baik. Serat juga berikatan dengan asam empedu yang mengandung kolesterol dan akan mengeluarkannya dari tubuh lewat tinja, sehingga akhirnya kadar kolesterol akan turun. Manfaat serat yang lainnya yang tak kalah penting adalah efek anti sembelit yang dimilikinya, sehingga kesehatan usus menjadi lebih baik karena buang air besar dapat dilakukan secara lancar setiap hari.

  3. Minimalkan penggunaan lemak jenuh

    Lemak jenuh yang terkandung pada produk hewani seperti daging, susu, dan keju akan meningkatkan risiko kanker dan penyakit jantung koroner. Bahan pangan yang dapat digunakan untuk menggantikan lemak jenuh adalah minyak nabati seperti minyak zaitun dan minyak canola yang mengandung lemak tak jenuh. Selain mengurangi risiko penyakit, minyak nabati relatif tidak meningkatkan berat badan.

  4. Variasi makanan

    Susunlah menu makanan secara bervariasi, menggunakan berbagai jenis sayur dan buah. Sayur dan buah merupakan sumber vitamin, mineral dan antioksidan yang alami. Antioksidan adalah penghancur radikal bebas yang ada dalam tubuh. Radikal bebas berbahaya bagi sel tubuh dan berperan menimbulkan kanker. Lingkungan yang tercemar, bahan makanan yang diawetkan serta asap rokok merupakan contoh sumber radikal bebas di sekitar kita. Konsumsi bahan makanan yang mengandung antioksidan akan menurunkan kadar radikal bebas di dalam tubuh sehingga mencegah kerusakan jaringan tubuh dan terjadinya kanker.

  5. Bahan makanan alami

    Pilihlah bahan makanan yang masih alami. Proses pengolahan bahan pangan seringkali malah menghilangkan zat gizi dan nutrisi yang terkandung di dalamnya. Riset para ahli telah menunjukkan bahwa zat gizi, nutrisi, dan antioksidan dari bahan pangan alami lebih baik kualitasnya dari pada yang berupa olahan ataupun berupa suplemen makanan.

  6. Makan secukupnya

    Makanlah secukupnya, dalam artian jangan sampai kekurangan namun juga janganlah berlebihan. Kekurangan zat gizi karena makan terlalu sedikit sudah tentu akan menyebabkan tubuh tidak memiliki modal yang cukup untuk metabolisme sehari-hari dan untuk membangun kekebalan terhadap penyakit. Namun demikian makan yang berlebihan juga akan menyebabkan penimbunan bahan makanan yang tidak terpakai sehingga terjadi kegemukan dan peningkatan kadar lemak, yang justru akan membebani kerja organ hati, jantung, dan ginjal.

  7. Makan secara teratur

    Sedapat mungkin aturlah agar makan dilakukan secara teratur waktunya. Hal ini penting karena sekresi asam lambung dan enzim pencernaan umumnya mengikuti irama harian sesuai dengan jadwal makan sebelumnya. Tidak teraturnya jadwal makan dapat menyebabkan berbagai keluhan sakit maag, karena adanya iritasi dari asam lambung dan enzim pencernaan pada saluran cerna yang kosong

Pajak Poligami

(Koran TEMPO, 2007)

Ketika di surga dan pertama kali diturunkan ke bumi, Adam hanya berteman Hawa. Tidak ada Maura, Naomi, ataupun Pawestri sebagai pelengkap. Artinya, sejak awal, garis yang ditetapkan untuk hidup berpasangan adalah monogami. Hanya saja, spesies homo sapiens berjenis kelamin laki-laki memang banyak maunya. Kalau melihat lawan jenis yang bikin gemes kok ada rasa ser yang bagaimana begitu. Saya tidak terkecuali. Kalau ada laki-laki yang bilang, “Saya sih beda!”, saya akan bilang, “Ah, beda paling cuma dikit, Bung!”

Perkecualian tentu ada, yaitu para romantik, tapi jumlahnya tak banyak. Ada pepatah lama Cina yang sangat baik dalam menggambarkan parahnya otak laki-laki, “Istri tidak seciamik gundik, gundik tidak seyahud pelacur, pelacur tidak sedahsyat pasangan selingkuh….”

Meskipun begitu, buru-buru mesti saya susulkan bahwa otak ngeres tidak otomatis berbuah eksekusi. Soalnya, ada dua golongan besar laki-laki: konseptor dan eksekutor. Yang pertama itu bisanya cuma membatin tok. Alasannya bisa macam-macam, kadar iman sedang naik, takut istri, tak punya dana, atau lebih senang berfantasi, dan sebagainya. Selanjutnya, golongan kedua adalah tipe-tipe yang “konsekuen”, punya mau ya harus terlaksana, bisa dengan pelesir, selingkuh, atau yang kini sedang jadi topik hangat, poligami—lebih tepatnya poligini.

Persoalan mana yang lebih berat timbangannya, berpulang ke masing-masing orang. Apakah menyakiti perasaan pasangan hidup dengan berpoligami lebih ringan kesalahannya ketimbang melakukan hubungan seks di luar nikah tetapi pasangan tidak tahu? Bukan kapasitas saya untuk menjawabnya.

Tentu, saya percaya ada yang melakukan poligini bukan karena dorongan syahwat, tapi itu terbatas pada Nabi Muhammad SAW dan sebagian kecil orang pilihan. Yang lain, ya tak jauh-jauh dari dorongan birahi. Sama-sama menyantuni, jelas laki-laki kebanyakan memilih yang lebih segar dan montok ketimbang pasangan awal. Mosok mau rugi?

Praktek poligini terjadi hampir di semua budaya: Cina, India, Ibrani, Arab, Maya, maupun Eropa. Pelakunya juga tidak terbatas pada penganut Islam. Salah satu sekte Kristen Mormon juga melakukannya, misalnya, sekalipun perkawinan-perkawinan mereka sifatnya di bawah tangan karena bertentangan dengan Konstitusi Amerika Serikat. Poligini juga dilakukan pemeluk Hindu dan Buddha.

Poliandri lebih kurang lazim, tetapi bukannya tidak ada, bahkan sampai sekarang. Suku-suku nomadik Tibet secara tradisional masih mempraktekkan poliandiri di mana dua bersaudara beristrikan seorang wanita, tujuannya untuk membatasi bertambahnya populasi karena minimnya sumber pangan.

Tidak ada tanggal tepat kapan mulai berlakunya praktek poligini—yang untuk seterusnya akan saya sebut poligami. Pastinya sudah lama sekali, karena dalam kisah-kisah lama disebutkan bagaimana para kaisar, bangsawan, hartawan, atau pemuka agama beristri lebih dari satu. Kadang-kadang jumlah para wanita dalam sebuah harem fantastis sekali. Boleh jadi, si pemilik harem tiap hari menyambangi rakyatnya sembari berkata, “Doakan saya kuat, ya.”

Secara pribadi, saya menganggap poligami berada di wilayah antara ruang pribadi dan publik. Poligami menjadi persoalan pribadi ketika para pelakunya menjalaninya dengan sukarela. Bagaimana mengukur kerelaan, juga kebahagiaan, saya tidak tahu. Tetapi, sepanjang tidak ada hukum positif yang dilanggar, poligami adalah pilihan. Soalnya, susah menilai kalau ukurannya bukan hukum positif. Dengan berat hati, saya mesti bilang, banyak pijakan yang dimajukan penolak poligami sebetulnya bisa juga digunakan pendukung poligami. Tentang keadilan, misalnya. Dalam kasus ekstrem, seorang laki-laki yang beristri dua bisa saja membagi uangnya dalam jumlah sama besar, waktunya sama persis, tiga hari di istri pertama, tiga hari di istri kedua (yang sehari ngaso di losmen), bahkan mereplikasi semua ucapan dan gerakannya dalam berhubungan badan (tidak mungkin, tentu). Namun, yang dirasakan kedua istri bisa sangat berbeda dan salah satu atau mungkin keduanya merasa diperlakukan kurang adil. Sementara, dua istri yang diperlakukan secara berbeda dalam segala hal bisa saja sama-sama marem alias puas.

Oleh sebab itu, sepanjang tidak ada hukum positif yang dilanggar, saya menolak jika poligami dikriminalisasi, sebagaimana halnya saya menolak aparat hukum memboroskan uang negara dengan merazia hotel-hotel nggropyoki pasangan bukan suami istri. Dua hal ini bagi saya sama-sama berada dalam wilayah pribadi.

Poligami menjadi wilayah publik ketika ada hukum positif yang dilanggar: pelanggaran undang-undang, penelantaran anak dan istri, penipuan, serta korupsi uang negara (jika pelakunya aparat pemerintahan).

Pajak

Saya punya sedikit ganjalan terhadap peraturan lama yang ada. Dalam UU Perkawinan, salah satu klausul yang membolehkan laki-laki menikah lagi adalah ketika istrinya sedang sakit. Menurut saya, seorang suami semestinya justru dilarang menikah lagi ketika istrinya sakit berat. Masa istri sakit ditinggal? Tidak manusiawi. Keterlaluan kalau pemerintah malah membolehkannya.

Meskipun begitu, saya menganggap pemerintah sudah bergerak ke arah yang tepat dalam persoalan poligami. Sudah Islami malah, karena semangatnya adalah membatasi dan menertibkan.

Dalam semangat membatasi itu, inilah usul baru saya: pajak poligami. Para pelaku poligami sering berargumen bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah satu bentuk tindak penyantunan. Kalau bisa menyantuni, berarti punya harta berlebih. Karena apa yang mereka lakukan adalah sebuah “privelese”, tak semua orang bisa dari segi materi, perkawinan kedua dan seterusnya layak dipajaki.

Bagaimana penetapannya? Saya cenderung menyamakannya dengan pajak barang mewah. Saya tidak bermaksud menyamakan kaum perempuan dengan barang lho. Tetapi begini, kalau perkawinan kedua atau seterusnya dari seorang laki-laki betul-betul memenuhi persyaratan hukum yang ada, ia mesti sadar sesadar-sadarnya bahwa apa yang ia terima adalah kemewahan luar biasa. Sedikit keminggris, great deal of luxury. Kurang mewah apa laki-laki yang dapat izin untuk menikah lagi dari istri pertamanya? Kalau ia tidak menganggapnya begitu, sialan bener.

Pajak ini juga harus eksponensial. Jadi kalau untuk perkawinan kedua pajaknya Rp x, untuk perkawinan ketiga Rp x2 , dan yang keempat Rp x3. Tentu akan muncul suara, kalau begitu poligami untuk orang mampu saja, dong. Jelas, kan memang begitu aturannya. Orang miskin memang dilarang keras berpoligami. Meminjam kata-kata dalam dagelan lama: mosok kawin mau mencetak kere?

Tentu, peraturan ini bila diterapkan, perlu persyaratan yang tidak enteng. Pertama adalah kesiapan pemerintah sendiri. Yang mutlak adalah data akurat kependudukan. Sudah saatnya semua KTP dilengkapi dengan semacam “nomor jaminan sosial.” Memiliki KTP ganda diancam hukuman berat. Dengan data semacam ini, para peminat poligami tidak akan mudah lagi main kucing-kucingan. Mau mengaku bujangan, penghulunya tinggal mengecek di komputer benar tidaknya. Katakanlah sudah dapat izin dari istri pertama, petugas tinggal mengecek data kekayaan si peminat. Kalau tak memenuhi syarat, silakan mundur. Mau kawin untuk ketiga kalinya, petugas tinggal memeriksa apakah pajak untuk perkawinan kedua sudah dipenuhi atau belum, apakah anak-anak dari perkawinan sebelumnya terurus apa tidak. Tentu saja, data akan percuma jika mental petugasnya masih sama seperti sekarang. Oleh sebab itu, petugas yang melanggar layak dijatuhi hukuman berat.

Penipuan dalam kehidupan berumah tangga juga akan bisa digagalkan. Para bajul darat yang hobi menikah lagi untuk menguras kekayaan istri barunya pasti langsung ciut nyalinya jika petugas punya data akurat tentang dirinya.

Dengan adanya penerapan pajak poligami, semua untung. Pemerintah dapat pemasukan tambahan. Pajak ini peruntukannya bisa dikhususkan bagi anak yatim dan janda-janda yang tidak mampu (yang tidak dilirik oleh peminat poligami). Sementara, peminat poligami mendapatkan sarana sah untuk mewujudkan keinginannya. Peminat poligami tidak bisa lagi bilang pemerintah menghalang-halangi hak mereka membentuk keluarga. Mau nikah lagi, silakan, tapi penuhi syarat-syaratnya. Kalau alasan yang dipakai adalah mengikuti sunah Nabi, ya patuhi aturan ini, bukankah kepatuhan terhadap aturan negara yang benar adalah salah satu pilar ajaran agama? Apalagi, beberapa pelaku poligami sering bilang mereka melakukan praktek itu untuk menjadi teladan bagi yang lain. Kalau teladan, tak perlu kucing-kucingan. Tak perlu mengeluh karena harus bayar pajak poligami. Dibandingkan kemewahan mendapat izin dari istri pertama, apa yang mesti dibayarkan jelas tak seberapa. Banyak lelaki yang sudi bertukar tempat. Saya? Wah, saya belum punya Nomor Pokok Wajib Pajak.

Categories: Knowledge
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.